[Indymedia-jakarta] Re: Jeune, Prada-Meinhof dan Rekuperasi
Arise Silently
political_hooligan at yahoo.com
Thu Jul 28 00:45:04 PDT 2005
Buat temen-temen semua yang masih ngikutin debat soal Rekuperasi
Okay, maaf agak lama karena saya harus nyari lagi file soal Prada-Meinhof yang saya ketik dulu dan saya kirim buat Jeune. Ini saya sertain di attachment.
Buat tim DPK
Saat saya menulis untuk Jeune, saya tidak melakukannya untuk mensubvert Jeune. Saya melakukannya karena saya ingin menulis sesuatu mengenai Prada-Meinhof dan bukan dari sisi apakah pemberontakan telah terrekuperasiatau apakah RAF telah terrekuperasi ke dalam Prada. Yang saya tekankan dalam artikel tersebut memang adalah tentang sebuah grup revolusioner (whatever it means) yang memiliki selera tersendiri dalam berbusana. Perhatikan, berapa banyak grup revolusioner yang seperti demikian? Atau apabila aktifitas RAF tersebut dikaitkan dengan dunia bandit, berapa banyak bandit yang berpikir bahwa penampilan tetap dianggap penting? Mungkin apabila kita membuka-buka tulisan mengenai bajak laut di masa jayanya, kita juga akan melihat Captain Bonney, bajak laut Karibia yang terkenal hebat karena keberhasilannya merampok kapal-kapal dagang dan membebaskan budak-budak di atasnya, serta tak pernah lupa mengenakan kemeja sutra, topi yang dihiasi bulu, overcoat merah beludru dalam setiap kali ia
memimpin aksi penjarahannya. Tapi toh apa yang dilakukan Booney juga tak ada kaitannya dengan bagaimana ia berbusana. Itu yang saya soroti, tak pernah ada niat untuk merevolusikan fashion, karena bagaimanapun juga fashion adalah fashion. Dan selera berbusana adalah nilai artistik individual, sisi yang tak pernah dianggap penting oleh mereka yang mengklaim dirinya revolusioner. Pro-proletariat bukan berarti mengglorifikasi kemiskinan dengan bergaya ala bohemian seperti yang dilakukan oleh para leftist Indonesia (terutama barisan mahasiswanya)rambut tak terurus atau dibiarkan tumbuh gondrong, lusuh, bersendal jepit, celana jeans sobek. Tak ada salahnya berpenampilan demikian apabila memang selera berbusananya demikian, tapi toh tak ada salahnya juga berpenampilan tidak seperti demikian. Ada semacam sebuah kode etik tak tertulis dalam lingkar aktifis di Indonesia, bahwa menjadi revolusioner adalah berarti juga harus bergaya ala bohemian. Apa bedanya sama para yuppies yang memiliki
kode etik fashion sendiri? Fuck it. Their revolution is aint for me. I wear what I like and what I think is good.
Tapi terlepas dari artikel yang saya tulis untuk Jeune, saya juga sepenuhnya menentang ide-ide bahwa fashion bisa membawa revolusi. Malcolm McLaren bersama Viviene Westwood pernah berkata bahwa, They do not see the power of imagination to fashion and invent self leds to putting constructs into play and in missing that they fail to see the pole star of truth without which we are pawns. Dan mereka menciptakan subkultur punk bersama Jamie Reid yang pro-situ. Ini adalah ideologi yang dianut oleh para pengikut subkultur punk hingga saat ini. Tapi tanyakan lagi, apakah mencat rambut, re-invent yourself, akan menghentikan roda kapitalisme dan mengubah tatanan sosialnya? Setelah bertahun-tahun berada di bawah definisi bahwa fashion bisa membawa revolusi, hal-hal yang substansial hanya menjadi semakin memburuk dan kehilangan esensi. Jadi berhenti berpikir bahwa mensubvert fashion (termasuk majalah yang mempromosikannya, seperti Jeune) ke arah ide-ide revolusioner adalah sesuatu yang dapat
membawa kita semua ke arah hal-hal yang lebih signifikan. Revolusi yang sesungguhnya tak akan pernah ditelevisikan. Revolusi yang sesungguhnya juga tak akan pernah berawal dari majalah fashion atau sekedar fashion-statement seperti misalnya subkultur punk. Jadi jangan pernah kaitkan tulisan saya di majalah fashion dengan keyakinan saya bahwa tatanan masyarakat saat ini harus diserang.
Fashion is always fashion, the real revolution is elsewhere
tapi itu juga tergantung definisi kalian soal terminologi revolusi (oooh, kita sudah mulai berbicara tentang semantik sekarang). Sebuah revolusi dalam rasa cola, revolusi dalam merancang mobil, revolusi dalam komunikasi dengan dikembangkannya ponsel, revolusi dalam proses menyinari sayuran sehingga sayuran bisa lebih terlihat hijau dan segar (lihat sayuran hidrofonik di supermarket)? Kita dikelilingi oleh revolusi. Ia ada dimana-mana, tetapi kita tidak memiliki terminologi kita sendiri. Revolusi re-evolusi evolve/turning... re-volution, re-turning. Shit. Poin pentingnya adalah bagaimana kita menciptakannya, sustain it, dan membuatnya bekerja seperti black hole yang menarik apapun ke dalamnya; itu yang kita tidak punya. Atau ia akan menjadi sebuah komoditi lain (ehm, itu sudah terjadi bukan?). Mau menyerang tatanan masyarakat komoditas? Cari sumber dan akar masalahnya: jual beli. (Read some Marx you dumb, so you can
understand more about commodity and this economic system).
Btw, apapun dapat menjadi komoditi (apa yang bukan?), tetapi toh saya pribadi menerima apapun bentuk komoditi, saya hanya menolak untuk membayarnya. Haha.
Sampai ketemu lagi.
Pam
"Words cannot save us! Words don't break chains! The deed alone makes us free! Destroy what destroys you!" attributed to Michael 'Bommi' Baumann; West German urban guerrilla/June 2nd Movement.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
-------------- next part --------------
An HTML attachment was scrubbed...
URL: https://lists.indymedia.org/mailman/private/imc-jakarta/attachments/20050728/2afa8dee/attachment.htm
-------------- next part --------------
A non-text attachment was scrubbed...
Name: Prada-Meinhof Radical Chic.rtf
Type: text/richtext
Size: 13929 bytes
Desc: 2551548443-Prada-Meinhof Radical Chic.rtf
Url : https://lists.indymedia.org/mailman/private/imc-jakarta/attachments/20050728/2afa8dee/attachment.rtx
More information about the imc-jakarta
mailing list