[Indymedia-jakarta] Hari Ini Tujuh Tahun Lalu - Peringatan Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

chaos rules malamkomunitas at gmail.com
Thu May 12 05:26:43 PDT 2005


http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=187

Hari Ini Tujuh Tahun Lalu 
Peringatan Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 

Hari itu, 12 Mei 1998, empat orang mahasiswa Trisakti gugur saat
aparat kepolisian menembakkan peluru tajam ke arah Kampus Trisakti di
Grogol.
Tujuh tahun silam Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie,
dan Hery Hartanto tewas akibat terjangan timah panas tentara dan
polisi. Beberapa hari sebelumnya, 8 Mei 1998, seorang mahasiswa di
Yogyakarta, Moses Gatotkaca juga tewas dalam bentrokan dengan aparat
ketika aksi unjuk rasa menuntut Presiden Soeharto mundur.


Peristiwa aksi di hampir seluruh Indonesia ini, mengawali momentum
kejadian bersejarah. Yakni meluasnya aksi di kota-kota lain,
terjadinya kerusuhan di Jakarta pada tanggal 13 dan 14 Mei,
didudukinya gedung MPR/DPR oleh mahasiswa, dan terjadinya transfer
kekuasaan dari Soeharto kepada wakil presidennya saat itu BJ Habibie
pada tanggal 21 Mei. Ini menandai " runtuhnya" rezim orde baru yang
berkuasa selama 32 tahun.

Tapi, semua itu seakan tak bermakna mengingat hingga kini pengungkapan
kasusnya masih "gelap" dan cenderung mulai dilupakan. Sejak panitis
khusus DPR menyatakan, kejadian ini bukan pelanggaran berat hak asasi
manusia (HAM), gaung pengungkapannya seakan sengaja dilemahkan.

Rekomendasi DPR "memandulkan" hasil kerja Komisi Penyelidik
Pelanggaran (KPP) Trisakti. Rekomendasi ini juga dijadikan "tameng"
oleh para pejabat untuk menolak pemeriksaan KPP HAM Trisakti. Hal
kemudian diperkuat dengan pernyataan pimpinan DPR yang mendukung
penolakan sejumlah perwira TNI/Polri menolak panggilan KPP HAM
tersebut.
Saat ini berkas hasil penyelidikan KPP HAM tersebut berada di
Kejaksaan Agung (Kejagung) dan penangannya 'jalan di tempat'. Jaksa
Agung Abdul Rahman Saleh pun mengakui pihaknya mempunyai kendala
politis dalam menangani proses hukum perkara Trisakti, Semanggi I-II,
dan kasus Mei.

Komnas HAM menganggap peristiwa Trisakti masuk kategori pelanggaran
HAM berat, jadi seharusnya DPR mengusulkan pembentukan Pengadilan HAM
Ad Hoc. Komnas HAM juga mendesak DPR agar mengubah keputusannya,
karena telah melampaui kewenangannya. Sebab, yang berhak menentukan
terjadinya pelanggaran adalah wewenang institusi, penyelidikan,
penyidikan dan pengadilan. Saat ini berkas hasil penyelidikan KPP HAM
tersebut berada di tangan Kejaksaan Agung (Kejagung), tanpa ada
desakan dari parlemen maupun pemerintah agar Kejagung segera
menuntaskannya.

Rangkaian Aksi Peringatan 12 Mei

Lembaga Mahasiswa Trisakti mengelar berbagai acara. Acara tersebut
dimulai pada Jumat lalu 28 April 2005. Antara lain pemutaran film,
pameran foto, mimbar bebas dan pagelaran musik HAM.

Puncak acara akan diadakan tepat pada tanggal 12 Mei 2005, bertepatan
dengan terjadinya penembakan tujuh tahun yang lalu. Acara diawali
dengan aksi 'sejuta bunga' dan happening art di Bundaran Hotel
Indonesia (HI). Setelah itu dilanjutkan dengan demonstrasi ke DPR,
Mahkamah Agung (MA) dan Istana Negara.
Aksi diikuti oleh sekitar 2.000 mahasiswa dari beberapa kampus lain.
Mereka berangkat mengendarai puluhan sepeda motor dan bus Metro Mini
dari Kampus Trisakti. Dalam aksinya, mahasiswa meminta tragedi
Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II dituntaskan.

Sampai sekitar pukul 17.00 Wib, massa masih melakukan orasi. Tampak
satu mobil komando di paling depan, sementara ribuan mahasiswa
meneriakkan yel-yel sambil membawa panji-panji bendera, spanduk, dan
poster-poster.

Usai demonstrasi, rencananya acara akan dilanjutkan di Kampus
Trisakti. Acara diisi dengan rekonstruksi kejadian pada 12 Mei tujuh
tahun yang lalu. Ini akan menjadi semacam sandiwara. Malamnya akan
diadakan doa dan renungan untuk menutup rangkaian acara.

Di berbagai kota lain, mahasiswa juga melakukan aksi peringatan 12
Mei. Seperti di Makassar, mahasiswa dari berbagai kampus dan elemen
juga menuntut pengungkapan kasus Trisakti, Semanggi I, Semanggi II,
serta menuntut peradilan terhadap Suharto sebagai penguasa Orde Baru.
Di Universitas Tanjungpura, mahasiswa Pontianak mengajak elemen
masyarakat mengenang perjalanan reformasi yang digulirkan pada tahun
1998, masa ketika penguasa Orde Baru dibawah pemerintahan Presiden
Soeharto mengakhiri pemerintahan. ***



More information about the imc-jakarta mailing list