[Indymedia-jakarta] PENTAS TEATER EMBRIO MATARAM

abdul malik jazzgoestomalik2 at yahoo.com
Tue Jun 2 02:23:28 PDT 2009


PERAIH HIBAH SENI YAYASAN SENI KELOLA
PENTAS TEATER EMBRIO
SATU LAWAN SATU
NASKAH ;WINSA
TAMAN BUDAYA NUSA TENGGARA BARAT
JL.MAJAPAHIT
MATARAM
9-14 JUNI 2009 PUKUL 20.00 WITA
TEATER EMBRIO 
Teater Embrio Lombok meniti kerja teater teater sejak 2000, 
sungguhpun secara non-
resmi sebagai grup telah dimulai jauh hari sebelumnya. 
Setidaknya telah beberapa 
lakon dihasilkan, al: Insomnia (Sony Karsono, 2000-2008), 
Malam Jahanam (Motinggo Busye, 2006), Petang Di Taman (Iwan 
Simatupang, 2007), Dukun Palsu (Moliere “Dokter Gadungan”, 
2008), dan kali ini Satu Lawan Satu (Winsa, 2009). Sampai 
pada tataran saat ini, memilih lakon-lakon komedi sebagai 
medan ekspresinya. Tentu atas pertimbangan dan wacana 
tertentu yang jadi alasan. Soal kapan akan beranjak 
bergantung pada jejak yang dilalui, pada terminal yang 
disinggahi, dan pada muara yang dituju. Perlu waktu sudah 
tentu!
Teater Embrio tempat siapa saja yang bersemangat berteater 
untuk menjadikan dirinya embrio bagi tumbuh dan dewasa di 
hari kemudian. Pun publik (sahabat kita) yang selama ini 
ber-kesempatan hadir, terharap demikian pula. Sedang dalam 
proses mempersiapkan karya, Embrio Lombok lebih 
mengedepankan efektifitas kerja serta efisiensi waktu. Dan 
coba hindari “kebiasaan berteater” berlarut-larut di udara 
kosong. Analisis dan diskusi pun seperlu fokus yang 
dibutuhkan sehingga titik bidik jadi pasti dan tidak 
terjebak pada “kegagahan sok diskutif”. Pokoknya, berteater 
itu biasa-biasa saja. Sederhana saja. Toh, asal sungguh-
sungguh sepenuh tulus semogalah ketemu hamparan mulus.
WINSA (Sutradara)
Berteater dimulai ketika kelas 2 SMA (1983) bersama Teater 
Sabar Semarang. Lalu belajar secara akademik di Jurusan 
Teater prog.study Dramaturgi ISI Yogyakarta (1985-1992). 
Selama di kota budaya sempat bergabung dengan Teater Aksara 
dan Teater Skala Yogya. Awal di teater sebagai aktor dan 
pembaca puisi yang tetap dilakoni sampai sekarangi sebelum 
merambah ke ranah penyutradaraan. Telah puluhan lakon naskah 
standar sempat dimainkan dan belasan kali menggelar pentas 
baca puisi tunggal. Untuk yang disebut terakhir ‘segala 
medan’ pernah dijejaki, dari medan perkampungan, birokrasi, 
aktifitas sosial, kesehatan, lingkungan hidup, bahkan di 
pesta pernikahan, dll. Acapkali pula melantangkan puisi di 
arena partai politik. 
Lahir 16 Mei 1965 di Semarang. Sejak awal 1995 ‘me-Lombok’ 
dan awal 2000 membikin Teater Embrio dengan pentas perdana 
“Insomnia” (monolog dari cerpen Sony Karsono). Selanjutnya 
“Malam Jahanam” Motinggo Busye, “Petang Di Taman” Iwan 
Simatupang, “Dukun Palsu” (Dokter Gadungan) Moliere, dan 
yang kini (2009) tengah digelar “Satu Lawan Satu” Winsa. 
Selama di di Mataram pernah bergabung di Bengkel Aktor 
Mataram, Sanggar Apresiasi, Teater TotiMori, Teater Kamar, 
dan Teater Lho. Juga menulis puisi, nakah dan artikel yang 
disebar ke beberapa media cetak. Kesibukan lain sebagai 
Stage Manager Taman Budaya NTB serta penyelenggara beberapa 
pergelaran seni pertunjukan.
Kini bersama keluarga: Anna, Indie, Biru, Jingga, dan Mbak 
Ayok tinggal di Lingkungan Punia Saba. Tepatnya di Jl. Abd. 
Kadir Munsyi, Gg. Dahlia 12 Mataram.
PENGGALAN NASKAH
Naskah Teater 
SATU LAWAN SATU
Naskah: Winsa
diangkat, diilhami dan dikembangkan dari cerita teater 
tradisional Sasak-Lombok KEMIDI RUDAT

INTRODUCTION
Musik: mengiringi tari dan lagu
Tari dan nyanyi rudat oleh PARA PEMUSIK dan/atau PARA 
PEMAIN.
Selamat malam. Selamat berjumpa 
Kami datang kami datang
ke hadapan Anda sekalian
Ijinkanlah, kami hibur dengan cerita
Hanya sederhana. Sederhana
Mudah-mudahan bisa diterima
Maafkanlah. Maafkanlah diri kami
Semua tingkah, semua kata
yang kurang berkenan di hati.
ADEGAN I
Setting: Sebuah Tempat.
Musik: Iringan tari nuansa mesra
Adegan diawali dengan gerak (tarian) PARASINDAH dengan BAKTI 
TERUNA yang menggambarkan percintaan. Tergambar pula 
pertentangan antara keduanya yang dikarenakan BAKTI TERUNA 
berpamitan hendak pergi meninggalkan sang kekasih. 
PARASINDAH menolak dan kurang bisa menerima kenyaataan ini.
PARSINDAH dan BAKTI TERUNA memadu kasih. Tetapi wajah 
PARASINDAH tampak murung karena hendak ditinggalkan oleh 
kekasihnya. 
PARASINDAH : (bernyanyi)
Namaku adalah Parasindah (koor: he he he he he)
Si gadis desa wajah cantik
Diri menarik dan juga cerdas
BAKTI TERUNA : (bernyanyi)
Namaku adalah Bakti Teruna (koor: he he he he he)
Seorang pemuda cukup tampan
Sikap sopan dan berwibawa
PARASINDAH :
Wahai kakanda! 
BAKTI TERUNA :
Duhai adinda!
PARASINDAH :
Kekasih pujaan, kenapa tega hendak meninggalkanku? Apa cinta 
telah mulai kehilangan cahayanya? Apa kesetiaan yang selama 
ini mekar telah mulai layu? 
BAKTI TERUNA :
Duhai dinda, kekasih idaman. Siapa yang akan tega 
meninggalkanmu? Seperti dirimu, akupun bakal tak tahan 
menyimpan rasa rindu. Tetapi mengertilah, kali ini terpaksa 
aku harus pergi, demi mempersiapkan bekal hidup di masa 
depan.
PARASINDAH :
(kesal) Masa depan! Berdua kita bisa merajutnya di sini. 
BAKTI TERUNA :
Lho, ini lain!
PARASINDAH :
Sama saja! Masa depan menjadi pasti kalau bisa melewati hari 
ini.
BAKTI TERUNA :
(bergumam pada diri sendiri) Bener juga! 
(sesaat kemudian) Apa kau tidak ingin hidup kita kelak 
bahagia?
PARASINDAH :
Jelas ingin, dong! Cuma orang aneh bin ajaib yang tidak 
ingin bahagia.
BAKTI TERUNA :
Makanya...!
PARASINDAH :
(memotong) Makanya jangan pergi! 
BAKTI TERUNA :
Pergi!
PARASINDAH :
Jangan pergi!
BAKTI TERUNA :
Pergi!
PARASINDAH :
Jangan pergi!
BAKTI TERUNA (bernyanyi) :
Aku pergi tak ‘kan lama. 
Hanya satu hari saja. 
Sribu tahun tak lama. 
Hanya sekejap saja. 
Kita ‘kan berjumpa pula.
Dindaku cantik sekali
Jangan kau bersedih hati
Relakan kanda pergi
Bahagia esok hari
Agar kita hidup berseri



      Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com
-------------- next part --------------
An HTML attachment was scrubbed...
URL: http://lists.indymedia.org/pipermail/imc-jakarta/attachments/20090602/bd2dcbb8/attachment.htm 


More information about the imc-jakarta mailing list